Rabu, 11 Mei 2016

Intro

0



 Selamat datang di blog gue yang isinya sekata kata gue dan semau mau gue. Sebelumnya minta maaf kalo nantinya isi dari blog ini ada yang menyinggung hati atau perasaan pembaca karena jujur aja gue orangnya suka meluapkan apapun yang ada di pikiran yang kadang tanpa dipikir dulu. Dan sebenernya guys, ini adalah bejibun kalinya gue bikin blog hehe. Berawal dari tugas TIK di SMP suruh bikin blog, hingga akhirnya ketagihan dan iseng iseng bikin banyak blog yang entah gajelas isinya apa. Tapi untuk kali ini, merasa gue udah sekian tahun hidup kayaknya ga ada lagi yang namanya gak jelas, semoga blog ini akan berjalan terus sampe gue besar hingga jadi nenek nenek sosialita.

Dan untuk catatan, blog ini sama sekali dibikin tanpa niat buat nyindir alay atau berusaha mengkode kode aduhai seseorang melainkan hanya sebagai bentuk tulisan yang murni asli dari pikiran dan pengalaman. Siapa tau dari salah satu posting, bisa diambil beberapa hikmah. Oh ya gue seneng banget kalo bisa memperpanjang pertemanan antara gue dan pembaca nih, hehe. Silakan hubungi gue di bbm, facebook, messanger, twitter, instagram, ask.fm, atau wazap. Biar gampang aja monggo add gue via facebook, gue yakin siapasih yang ngga punya facebook ya kan, apalagi bagi remaja kelahiran tahun 90an. Dari jaman jaman alay sampe sekarang, fb gue masih aktif meskipun jarang banget posting. Search “Hanna Firdaus” pasti akun gue udah nongol disitu. Oke? See you later. Enjoy please(((:

(NB : Dear pembaca, hari ini blog gue direnovasi. Curhatan curhatan alay dulu gue udah dihapus. Stay terus ya! jangan lupa bahagia!)











Cerpen : Suck Sister

0



Hari ini benar benar melelahkan. Seperti biasanya aku pulang ke rumah dari kantor dengan taksi langganan yang sudah siap di depan kantor. Pak budi, sopir taksi itu telah mengenalku bahkan aku tak harus menyebutkan alamat rumah untuk dituju setiap kali pulang, kecuali jika aku berubah pikiran untuk pergi ke kafe atau restoran sebelum tiba di rumah. Penatku memang luar biasa apalagi disaat saat lembur seperti ini, sebagai sekretaris kantor aku harus rela berjalan kesana kemari menemui orang penting perusahaan dengan span pendek dan highheels yang benar benar menyiksaku. Tapi inilah hidup, tak ada yang gratis.

Aku terus saja memandangi sorot lampu kendaraan dari dalam taksi, sama sama menunggu giliran untuk berjalan ditengah macet yang menyebalkan ini. Kulepas kuncir rambut yang mengikat erat sejak adi pagi, dan ah kurasakan nikmatnya rambut panjangku terjatuh. Kepalaku terasa ringan kembali, sepoi ac taksi dengan aroma jeruknya membuatku semakin hanyut dalam kantuk, hingga kutarik nafas panjang lalu akupun tertidur.

“mbak maya, sudah sampek mbak”
Suara pak budi membangunkan tidur singkatku. Kulirik jam tangan, tak terasa aku sudah 40 menit tertidur di dalam taksi ini.

“Oh iya, makasih pak” kusodorkan dua lembar uang dua puluh ribuan, dan pak budi membalas dengan senyuman.

Rasa lelah terus menggerogoti badanku, aku tak sabar segera masuk ke rumah dan berbaring diatas kasur empukku. Seperti biasanya komplek perumahan ini selalu sepi saat malam menjelang. Setelah taksi itu melaju pergi, kulihat seekor anak anjing menggonggong ke arahku dari sebrang rumah. Bulu coklat menggumpal yang seperti awan membuat anjing itu nampak seperti domba coklat kecil yang menggemaskan, anjing itu memiliki daya tarik hingga membuatku terus memandanginya. Tak lama si pemilik keluar, kami tak pernah bersosialisasi, tapi senyum ibu itu membuatku mengerti bahwa semua orang tak bisa terus menerus acuh terhadap lingkungan sekitarnya, manusia adalah makhluk social yang butuh bersosialisasi. Akupun membalas ibu itu dengan senyuman juga, lalu ia menggendong anjingnya dan tersenyum saat melihatku kembali, namun tiba tiba senyum itu berubah menjadi mulut yang menganga, alisnya mengkerut. Sambil menutup mulut yang menganga dengan tangan kanannya, ibu itu segera membawa anjingnya masuk kedalam rumah dengan ekspresi ketakutan.

Apa yang salah dengan diriku, akupun heran dan terus memperhatikan ibu itu berjalan cepat menuju rumahnya. Caranya menutup pintu menunjukkan seolah ia telah melihat sesuatu yang mengerikan. Kulihat sekeliling, tak ada apa apa. Aneh, akupun segera berjalan masuk kedalam rumah.
Saat kututup pintu kembali, tiba tiba lampu rumah padam, hal ini bukan pertamakali terjadi. Awalnya aku takut mengapa setiap kali memasuki rumah, seketika lampu padam, lalu menyala kembali. Betapa terkejutnya aku mengetahui bahwa itu adalah ulah stefi, adikku. Menyebalkan sekali ketika ia memainkan saklar lampu sehingga aku tak bisa melihat seisi rumah. Ia sengaja agar aku kesulitan mencari tangga yang menghubungkanku ke kamar, tak jarang ia juga menaruh beberapa buah paku pin di depan pintu agar aku merasakan kaget ketika kakiku menginjaknya. Sudah berulang kali aku mengatakan, bahwa itu sama sakali bukan candaan yang baik, kelakuannya bisa membahakanku.
Tetapi itulah stefi, ia tak mau mendengar apa yang kukatakan. Akupun bersikap acuh terhadapnya, beberapa kali aku harus benar benar memperhatikan lantai sebelum aku melangkah. Kalau tidak kakiku akan berdarah lagi karena ulah stefi. Lalu lampu rumah padam lagi, dalam sekejap kemudian menyala.

“Stefi itukah kau?” tanyaku. Seperti biasanya ia tak pernah menjawab.

“Stefi, sudah kubilang jangan pernah memainkan saklar lampu lagi. Kau tak tau berapa banyak biaya yang harus aku harus tanggung untuk setiap kerusakan yang kau buat dirumah ini” Aku segera menaiki tangga dan menuju kamar pribadiku.

Aku melewati kamar stefi dan selalu saja terdengar suaranya menangis. Stefi sangat menyebalkan, gadis kecil 11 tahun itu memang cengeng dan manja. Aku tak mau menggubrisnya lagi, ia selalu saja begitu. Sekata dua kata yang kulontarkan biasanya dapat membuatnya terdiam. Aku mengintip kedalam kamarnya yang gelap.

“Stefi, diamlah” benar saja. Ia langsung terdiam.

Karena lelah yang kurasakan begitu hebat, aku segera masuk ke kamar dan tak sabar untuk terbaring di kasur. Baru saja aku merebahkan tubuh, Stefi menangis lagi.

“Stefi diamlah” kali ini nada bicaraku mulai tinggi. Ia terus saja menangis.

“Stefi jangan ganggu kakak disaat saat seperti ini. Diamlah” begitu kataku lagi. Tangisan stefi semakin kencang.

Ia selalu saja begitu, terlebih ketika sejak kedua orang tua kami meninggal dalam kecelakaan pesawat. Setiap malam ia selalu menangis tak ada hentinya. Pahit memang kehilangan 2 orang yang sangat kami cintai, tetapi kami harus tegar, semua orang pasti ditakdirkan meninggal. Hanya saja kedua orang tua kami lebih cepat waktunya. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Berbagai usaha kulakukan untuk menghibur stefi. Aku bahkan membuat perubahan pada hidupnya, hal itu malah membuatnya tak semakin baik. Tangisan sejak malam kematian kedua orang taua kami itu selalu menjadi kebiasaan stefi disetiap malam harinya, hingga sekarang. Gadis kecil pemalu itu tak pernah mengatakan apa maunya, ia terus saja mengisyaratkan hal yang dia inginkan dengan menangis dan merengek seperti bayi.

Kini semakin lama tangisannya semakin kencang bahkan disertai dengan erangan. Telingaku bahkan tak sanggup menampung suaranya lagi meskipun kami tidak dalam satu kamar. Aku tak kuasa lagi menahan amarah yang berpadu dengan rasa lelah setelah seharian bekerja.

“Stefi haruskah kulakukan itu lagi?” teriakku dari dalam kamar. Gadis kecil itu malah membalas dengan jeritan.

“Tolonglah jangan malam ini, aku benar benar ingin istirahat” sepertinya kata kataku tak dapat meredakan tangisan stefi, akupun menyerah.

“Baiklah kalau itu maumu”

Dengan kondisi badan yang amat remuk, aku menuju halaman belakang rumah. Berjalan menuju makam Stefi yang ada sejak 1 tahun lalu. Membacakan doa untuknya dan meminta maaf lagi atas perbuatanku yang merubah hidupnya diwaktu silam. Tangisannya kini tak terdengar lagi. Huh, Stefi yang menyebalkan.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com