Hari ini benar benar melelahkan. Seperti biasanya aku pulang
ke rumah dari kantor dengan taksi langganan yang sudah siap di depan kantor.
Pak budi, sopir taksi itu telah mengenalku bahkan aku tak harus menyebutkan
alamat rumah untuk dituju setiap kali pulang, kecuali jika aku berubah pikiran
untuk pergi ke kafe atau restoran sebelum tiba di rumah. Penatku memang luar
biasa apalagi disaat saat lembur seperti ini, sebagai sekretaris kantor aku
harus rela berjalan kesana kemari menemui orang penting perusahaan dengan span
pendek dan highheels yang benar benar menyiksaku. Tapi inilah hidup, tak ada
yang gratis.
Aku terus saja memandangi sorot lampu kendaraan dari dalam
taksi, sama sama menunggu giliran untuk berjalan ditengah macet yang
menyebalkan ini. Kulepas kuncir rambut yang mengikat erat sejak adi pagi, dan
ah kurasakan nikmatnya rambut panjangku terjatuh. Kepalaku terasa ringan
kembali, sepoi ac taksi dengan aroma jeruknya membuatku semakin hanyut dalam
kantuk, hingga kutarik nafas panjang lalu akupun tertidur.
“mbak maya, sudah sampek mbak”
Suara pak budi membangunkan tidur singkatku. Kulirik jam
tangan, tak terasa aku sudah 40 menit tertidur di dalam taksi ini.
“Oh iya, makasih pak” kusodorkan dua lembar uang dua puluh
ribuan, dan pak budi membalas dengan senyuman.
Rasa lelah terus menggerogoti badanku, aku tak sabar segera
masuk ke rumah dan berbaring diatas kasur empukku. Seperti biasanya komplek
perumahan ini selalu sepi saat malam menjelang. Setelah taksi itu melaju pergi,
kulihat seekor anak anjing menggonggong ke arahku dari sebrang rumah. Bulu coklat
menggumpal yang seperti awan membuat anjing itu nampak seperti domba coklat
kecil yang menggemaskan, anjing itu memiliki daya tarik hingga membuatku terus memandanginya.
Tak lama si pemilik keluar, kami tak pernah bersosialisasi, tapi senyum ibu itu
membuatku mengerti bahwa semua orang tak bisa terus menerus acuh terhadap
lingkungan sekitarnya, manusia adalah makhluk social yang butuh bersosialisasi.
Akupun membalas ibu itu dengan senyuman juga, lalu ia menggendong anjingnya dan
tersenyum saat melihatku kembali, namun tiba tiba senyum itu berubah menjadi
mulut yang menganga, alisnya mengkerut. Sambil menutup mulut yang menganga
dengan tangan kanannya, ibu itu segera membawa anjingnya masuk kedalam rumah
dengan ekspresi ketakutan.
Apa yang salah dengan diriku, akupun heran dan terus
memperhatikan ibu itu berjalan cepat menuju rumahnya. Caranya menutup pintu
menunjukkan seolah ia telah melihat sesuatu yang mengerikan. Kulihat
sekeliling, tak ada apa apa. Aneh, akupun segera berjalan masuk kedalam rumah.
Saat kututup pintu kembali, tiba tiba lampu rumah padam, hal
ini bukan pertamakali terjadi. Awalnya aku takut mengapa setiap kali memasuki
rumah, seketika lampu padam, lalu menyala kembali. Betapa terkejutnya aku
mengetahui bahwa itu adalah ulah stefi, adikku. Menyebalkan sekali ketika ia
memainkan saklar lampu sehingga aku tak bisa melihat seisi rumah. Ia sengaja
agar aku kesulitan mencari tangga yang menghubungkanku ke kamar, tak jarang ia
juga menaruh beberapa buah paku pin di depan pintu agar aku merasakan kaget
ketika kakiku menginjaknya. Sudah berulang kali aku mengatakan, bahwa itu sama
sakali bukan candaan yang baik, kelakuannya bisa membahakanku.
Tetapi itulah stefi, ia tak mau mendengar apa yang kukatakan.
Akupun bersikap acuh terhadapnya, beberapa kali aku harus benar benar
memperhatikan lantai sebelum aku melangkah. Kalau tidak kakiku akan berdarah
lagi karena ulah stefi. Lalu lampu rumah padam lagi, dalam sekejap kemudian
menyala.
“Stefi itukah kau?” tanyaku. Seperti biasanya ia tak pernah
menjawab.
“Stefi, sudah kubilang jangan pernah memainkan saklar lampu
lagi. Kau tak tau berapa banyak biaya yang harus aku harus tanggung untuk
setiap kerusakan yang kau buat dirumah ini” Aku segera menaiki tangga dan
menuju kamar pribadiku.
Aku melewati kamar stefi dan selalu saja terdengar suaranya
menangis. Stefi sangat menyebalkan, gadis kecil 11 tahun itu memang cengeng dan
manja. Aku tak mau menggubrisnya lagi, ia selalu saja begitu. Sekata dua kata
yang kulontarkan biasanya dapat membuatnya terdiam. Aku mengintip kedalam kamarnya
yang gelap.
“Stefi, diamlah” benar saja. Ia langsung terdiam.
Karena lelah yang kurasakan begitu hebat, aku segera masuk
ke kamar dan tak sabar untuk terbaring di kasur. Baru saja aku merebahkan
tubuh, Stefi menangis lagi.
“Stefi diamlah” kali ini nada bicaraku mulai tinggi. Ia
terus saja menangis.
“Stefi jangan ganggu kakak disaat saat seperti ini. Diamlah”
begitu kataku lagi. Tangisan stefi semakin kencang.
Ia selalu saja begitu, terlebih ketika sejak kedua orang tua
kami meninggal dalam kecelakaan pesawat. Setiap malam ia selalu menangis tak ada
hentinya. Pahit memang kehilangan 2 orang yang sangat kami cintai, tetapi kami harus
tegar, semua orang pasti ditakdirkan meninggal. Hanya saja kedua orang tua kami
lebih cepat waktunya. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Berbagai usaha
kulakukan untuk menghibur stefi. Aku bahkan membuat perubahan pada hidupnya,
hal itu malah membuatnya tak semakin baik. Tangisan sejak malam kematian kedua
orang taua kami itu selalu menjadi kebiasaan stefi disetiap malam harinya,
hingga sekarang. Gadis kecil pemalu itu tak pernah mengatakan apa maunya, ia terus
saja mengisyaratkan hal yang dia inginkan dengan menangis dan merengek seperti
bayi.
Kini semakin lama tangisannya semakin kencang bahkan
disertai dengan erangan. Telingaku bahkan tak sanggup menampung suaranya lagi
meskipun kami tidak dalam satu kamar. Aku tak kuasa lagi menahan amarah yang
berpadu dengan rasa lelah setelah seharian bekerja.
“Stefi haruskah kulakukan itu lagi?” teriakku dari dalam
kamar. Gadis kecil itu malah membalas dengan jeritan.
“Tolonglah jangan malam ini, aku benar benar ingin
istirahat” sepertinya kata kataku tak dapat meredakan tangisan stefi, akupun
menyerah.
“Baiklah kalau itu maumu”
Dengan kondisi badan yang amat remuk, aku menuju halaman
belakang rumah. Berjalan menuju makam Stefi yang ada sejak 1 tahun lalu.
Membacakan doa untuknya dan meminta maaf lagi atas perbuatanku yang merubah
hidupnya diwaktu silam. Tangisannya kini tak terdengar lagi. Huh, Stefi yang
menyebalkan.
0 komentar:
Posting Komentar